Peristiwa Kanjuruhan Tragedi Terkenang

Peristiwa Kanjuruhan Tragedi Terkenang Sepanjang Masa

Peristiwa Kanjuruhan Tragedi Terkenang Sepanjang Masa. Pada tanggal 1 Oktober 2022 akan dikenang sebagai hari tergelap sepak bola dunia di Indonesia. 131 nyawa manusia hilang dalam tragedi kerusuhan sepak bola di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Selain 131 kematian, 306 orang terluka. Yang paling memilukan adalah di antara para korban, ada 35 anak tak berdosa yang tewas dalam peristiwa itu. Dunia terkejut dan tidak percaya bagaimana pertandingan sepak bola dapat menyebabkan hilangnya nyawa yang begitu besar.

Semuanya telah terjadi, sekarang yang tersisa hanyalah penyesalan dan tangisan dari mereka yang kehilangan anggota keluarga dan mereka yang terluka yang terbaring lemah di rumah sakit.

Mengulas Lebih Detail Tentang Peristiwa Kanjuruhan

Presiden Joko Widodo telah memerintahkan agar tragedi tersebut diusut tuntas, dan untuk menindaklanjuti instruksi presiden tersebut, dibentuklah Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF).

Mabes Polri juga telah memeriksa 18 anggotanya yang bertanggung jawab atas penggunaan gas air mata dalam insiden tersebut.

Kami berharap TGIPF yang dipimpin oleh Menko Polhukam Mahfud MD menemukan fakta-fakta penyebab kerusuhan dan pihak-pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban.

Dalam setiap kejadian, tentu ada hikmah atau pelajaran yang bisa kita petik. Semoga kejadian ini mendorong semua pihak untuk introspeksi diri, baik PSSI, penyelenggara pertandingan, polisi maupun suporter.

Tidak perlu saling menyalahkan karena semua pihak turut andil dalam terjadinya tragedi kemanusiaan ini. Yang harus dilakukan sekarang adalah melakukan evaluasi dan perubahan yang komprehensif.

Hal-hal yang mendesak untuk dievaluasi adalah infrastruktur stadion, pembatasan jumlah penonton dan waktu pertandingan, penegakan disiplin, dan keamanan pertandingan. PSSI harus memastikan stadion memenuhi standar keamanan maksimum untuk pemain dan penonton sebelum memberikan izin untuk menjadi tuan rumah pertandingan.

Hal utama yang harus diperhatikan adalah jalur dan sarana evakuasi jika terjadi keadaan darurat, seperti kerusuhan, kebakaran, dan gempa bumi. PSSI harus membatasi jumlah penonton sesuai kapasitas stadion dan mengevaluasi waktu pertandingan dengan membuat pembatasan waktu atau larangan menggelar pertandingan pada malam hari.

PSSI juga harus tegas dan memberikan sanksi jera terhadap klub yang terbukti gagal menyelenggarakan pertandingan secara tertib dan aman. Sanksi larangan pertandingan kandang atau kandang untuk beberapa pertandingan atau sampai akhir kompetisi tidak cukup, tetapi sanksi harus diberikan untuk jangka waktu yang lebih lama, misalnya lima tahun.

Penggunaan gas air mata dalam mengendalikan kerusuhan di dalam stadion dan tribun penonton juga harus dievaluasi. Larangan penggunaan gas air mata oleh FIFA harus dipatuhi. Aparat kepolisian bisa menggunakan meriam air sebagai alternatif untuk mengatasi huru hara di stadion.

Usaha pemulihan dampak peristiwa di Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur harus tepat dan konsisten serta harus didukung oleh semua pihak. Sejumlah trauma fisik dan mental yang ditimbulkan harus diselesaikan secara tuntas agar tidak menimbulkan dampak yang lebih besar di kemudian hari.

Peristiwa yang disaksikan ribuan penonton dan merenggut ratusan nyawa itu, kata Lestari, harus ditangani tuntas dengan melibatkan pemangku kepentingan.

Berbagai potensi dampak fisik dan non fisik, kata Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI dari Pilkada II Jateng, harus benar-benar menjadi prioritas penanganan pasca huru hara pada pertandingan sepak bola.

Di sisi lain, anggota DPP Partai NasDem ini berharap tragedi di Kanjuruhan, Malang ini dapat menjadi dorongan bagi para pemangku kepentingan untuk segera melakukan evaluasi dan pembenahan di berbagai sektor guna memperkuat setiap anak bangsa dalam menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *